Selasa, 15 November 2011

Seni Karawitan

Tari dan karawitan adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan.

Karawitan : musik tradisional dengan nada slendro dan pelog baik instrumental maupun vokal
Kalau di alat musik lain pelayangan bumi adalah sesuatu yang dihindari, beda halnya dengan gamelan jawa. Pada gamelan jawa justru membutuhkan pelayangan bunyi. Gamelan termasuk dalam jenis alat musik perkusi karena 90% alatnya dimainkan dengan cara dipukul. Yang digesek adalah rebab, dipetik adalah siter, yang ditiup adalah suling, dan yang digepuk adalah kendang.

Vokal pada karawitan terdiri dari gelongan dan sinden. Gelongan adalah vokal yang dilakukan oleh pria-pria secara ritmik, sedangkan sinden adalah vokal tunggal. Sinden adalah vokal yangs eringkali kita dengarkan di gending-gending jawa. Istilahnya tentu tak asing lagi.

Bermain gamelan sangat terkait dengan pola kehidupan kita. Dalam bermain gamelan, setiap instrumen saling tunggu-menunggu instrumen lain. Nilai-nilai toleransi sangat kental. Bahkan pengrawit-pengrawit tingkat mahir pasti dalam kehidupannya banyak melakukan pertimbangan rasa. Karena nilai-nilai itu telah didapat dalam memainkan gamelan sebagai sebuah tim. Tetapi sekarang etika bermain gamelan telah hilang. Tidak seperti dalam suatu orkestra yang pemainnya tertib dan menggunakan pakaian rapi. Seharusnya dalam bermain gamelan juga harus seperti itu tapi sekarang kenyataannya orang banyak yang bermain sambil makan, ataupun merokok.

Instrumen memiliki karakter masing-masing, misalnya kenong pada suasana keras, rebab pada suasana lembut dan gong adalah sebagai simpul suatu gending. Gong selalu menjadi awal dan akhir tiap lagu. Bonang dan rebab menjadi penentu lagu. Balungan adalah sebagai pendukung gamelan. Instrumen-instrumen dengan 2 alat pukul adalah instrumen depan. Instrumen ini tergolong lebih sulit jika dibandingkan instrumen lain. Oleh karena itu analoginya dalam budaya Jawa adalah orang yang duduk di deretan depan adalah orang yang memiliki kemampuan lebih.

Kalau di suatu orkestra punya dirigen, dalam bermain karawitan kendali diambil alih oleh pemain kendang, istilah dirigen pada karawitan adalah pengoba iromo. Pemain kendang harus paham betul koreografi tarian.


PERBEDAAN GAMELAN SURAKARTA DAN JOGJAKARTA

Gamelan itu yang saya tahu ya sama saja. Ya, kalau beda daerah pasti beda sih, tapi saya baru tau kalau gamelan Jawa itu beda lho satu sama lain. Gamelan itu ada gamelan gaya Surakarta dan Jogjakarta. Jadi begini ceritanya kenapa Surakarta dan Jogja bisa jadi punya 2 budaya yang berbeda ya?


Zaman kerajaan Mataram dulu terjadi perpecahan oleh VOC. Dengan ditandai Perjanjian Giyanti, Mataram dibagi 2 menjadi Keraton Surakarta yang dipimpin Pakubuwono III dan Kesultanan Jogjakarta yang dipimpin oleh Mangkubumi. Pakubuwono II mengamanatkan kedua anaknya dengan perintah yang berbeda. Untuk Mangkubumi diamanatkan unutuk memepertahankan budaya Mataram, sedangkan Pakubuwono III diminta membuat inovasi kebudayaan. (maaf kalau salah mohon koreksinya. Saya hanya menyampaikan informasi yang saya serap). Jadi budaya Jogja yang masih sangat kental sampai sekarang ini umurnya sudah sejak zaman kerajaan Mataram lho.

Beberapa perbedaan antara gamelan Surakarta dan Jogjakarta :

Surakarta
  • Lebih kecil ramping
  • Sifatnya lebih feminin
  • Warna ukiran gamelan lebih mencolok dan ukirannya tembus
Gamelan Surakarta
2.Jogjakarta
  • Besar dan instrumennya lebih banyak
  • Nadanya putus-putus, jaraknya jauh-jauh
  • Ukiran tidak tembus dan cenderung lebih simpel
Gamelan Jogjakarta
Ukuran gamelan berkaitan dengan nadanya. Nada di gamelan Jogja lebih rendah sedikit karena ukurannya yang lebih tebal. Fungsi gamelan ada dua, yaitu mandiri dan iringan. Mandiri digunakan saat uyon-uyon (saat tamu-tamu berdatangan, pra acara) dan klenengan. Sedangkan iringan untuk tari dan wayang. Gamelan yang komplit itu namanya gamelan ageng, sedangkan yang hanya sebagian saja namanya gadon. Hmm kalau dibandingkan, keraton Surakarta cenderung lebih menonjolkan diri dibanding Jogjakarta yang apa adanya. Kalau yang ini sih saya sudah pernah dengar sebelumnya sih.
Harga gamelan itu tidak usah ditanya lagi. Aspek yang mempengaruhi harganya adalah fisik, usia, dan sejarahnya. Satu bilah saja harganya (pada zaman tahun 70an) 200 ribu per buah. Bayangkan untuk 1 set gamelan bisa mencapai ratusan juta. Jadi miris kalau mengingat PSTK sempat kecolongan 25% gamelannya. Gamelan baru itu harus dilaraskan setidaknya 2-5 kali. Kalau di alat musik biasa, ya mirip-mirip lah dengan menyetem.
Oya, ada yang menarik tentang alat musik yang bernama rebab, ini adalah salah satu instrumen tingkat lanjut. Filosofi alat ini seperti manusia. Sebelumnya rebab itu seperti biola yang diberdirikan. Serat-seratnya banyak dan harus dikencangkan untuk digesek dengan rangkung namanya. Kawat rebab dianalogikan sebagai kelamin wanita dan rangkung adalah kelamin pria.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar